Wednesday, August 19, 2009

PERCONTOHAN, HUBUNGAN, dan AJARAN

"Lalu bangunlah Yesus dan menanggalkan jubah-Nya. Ia mengambil sehelai kain lenan dan mengikatkannya pada pinggang-Nya, sesudah itu Ia menuang air ke dalam sebuah baskom, lalu mulai membasuh kaki pengikut-pengikut-Nya dan mengeringkannya dengan anduk yang terikat di pinggang-Nya." - Yohanes 13:4-5 (BIS)

Apakah Anda mengingat dengan baik firman yang dicatat dalam Filipi 2:8, yang mengatakan: "Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib?" Ayat ini merupakan AJAKAN kerendahan yang paling mengensankan. Mengapa? Karena di dalamnya mengandung nilai KETAATAN SAMPAI DI GARIS FINISH. Tetapi bagaimana dengan Yohanes 13:5 di atas? Nah, nas ini mengandung tiga pokok yang tidak dapat dipisahkan: PERCONTOHAN, HUBUNGAN, dan AJARAN dalam kerendahan hati.

1. PERCONTOHAN (TELADAN)
Sebagai seorang gembala di gereja kecil, saya bisa meluangkan waktu bersama orang-orang yang saya gembalakan. Meskipun demikian, saya melihat bahwa ada sebagian di antara mereka yang suka bebas (tidak mau digembalakan) dengan dasar HUBUNGAN. Saya membuat pengamatan yang lebih dekat, dan ternyata orang-orang yang tidak mau digembalakan dengan dasar HUBUNGAN sedang tumbuh subur dalam KESOMBONGAN (sebab ia tidak merasa perlu persekutuan yang semacam itu). Tetapi meskipun demikian, saya melihat dalam diri saya, apakah saya telah menunjukkan bagaimana cara melakukan tentang pokok yang sedang saya ajarkan. Satu-satunya cara, adalah menunjukkan kepada mereka apa yang dimaksud dengan HUBUNGAN dengan cara memberi waktu bersama-sama dengan mereka selama waktu yang mereka inginkan. Demikian juga saya menunjukkan kepada mereka bagaimana cara kerendahan hati mulai dibangun. Saya menyuci lantai dan mengepelnya sebelum mereka masuk. Dan saya memuji Tuhan karena cara itu berhasil. Dulu yang mengepel lantai tempat ibadah adalah seorang koster. Tetapi sekarang, jemaat bergantian mengepel lantai sebelum mulai ibadah. Itu tidak mudah!

2. HUBUNGAN
Dalam penjelasan berikutnya, terjadi diskusi kecil ketika Yesus sedang membasuh kaki Petrus. Petrus menunjukkan sebuah reaksi spontan yang tidak memikirkan matang-matang maksud dari apa yang sedang Yesus lakukan bagi mereka. "Jangan, Tuhan," kata Petrus kepada Yesus, "Jangan sekali-kali Tuhan membasuh kaki saya!" Tetapi Yesus menjawab, "Kalau Aku tidak membasuhmu, engkau tidak ada hubungan dengan Aku." - Yohanes 13:8 (BIS). Saya tidak bisa membayangkan apa yang dirasakan Petus setelah Yesus menjawabnya demikian. Mungkin bisa seperti orang yang kena strum. Sehingga dalam ayat 9: "Simon Petrus berkata, "Kalau begitu, Tuhan, jangan hanya kaki saya tetapi tangan dan kepala saya juga!" Peturs tidak memahami maksud Yesus. Yesus sangat mementingkan hubungan. Tidak penting seberapa sibuknya Anda melayani, atau seberapa berhasilnya Anda dalam usaha, atau seberapa kreatifnya Anda dalam melakukan berbagai kegiatan. Yesus sangat mementingkan hubungan. Yesus berkata: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya Anak tidak dapat mengerjakan sesuatu dari diri-Nya sendiri, jikalau tidak Ia melihat Bapa mengerjakannya; sebab apa yang dikerjakan Bapa, itu juga yang dikerjakan Anak. - Yohanes 5:19 (TB). Di luar Yesus, sebenarnya keberhasilan Anda adalah kekeringan. Yesus menegaskan: "Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa." Yohanes 15:5 (TB)

3. AJARAN
"Sesudah Yesus membasuh kaki mereka, Ia memakai kembali jubah-Nya dan duduk lagi. Lalu Ia berkata kepada mereka, "Mengertikah kalian apa yang baru saja Kulakukan kepadamu?" - Yohanes 13:12 (BIS)
Penolakan Petrus terhadap tindakan Yesus ketika kakinya hendak dibasuh adalah masalah kekurangan pengertian. Kurangnya pengetahuan akan mengaburkan persepektif. Kaburnya perspektif akan melunturkan keyakinan. Lunturnya keyakinan akan mematahkan semangat bertindak. Semangat yang patah mematikan karakter. Oleh sebab itu, Yesus tahu bahwa murid-murid yang sedang digembalakan-Nya harus diajar dengan sistematis dan intensif, supaya karakter mereka akan menyerupai Dia kelak. Buktinya hanya dalam waktu kurang lebih tiga setengah tahun, murid-murid sudah dapat dilepas. Bagaimana dengan pengajaran di gereja Anda sekarang? Patut disayangkan, karena sekarang anggota-anggota jemaat banyak yang tidak mendapat apa-apa dalam gerejanya karena pengajaran yang tidak memadai. Ada banyak yang saya temui orang-orang Kristen yang suka pindah-pindah gereja untuk beribadah dan yang tidak mempunyai keanggotaan gereja sama sekali. Mereka pada umumnya berkilah demikian, "Ya, beginilah pak cara hidup. Saya akan pergi ke gereja di mana saya merasa bertumbuh. Bukankah tidak ada gereja yang sempurna?" Saya seringkali merasa iba dengan ungkapan saudara-saudara yang demikian, sebab mereka tidak menyadari bahwa mereka sedang berada dalam bahaya kematian. Mungkinkah suatu tanaman yang ditanam berpindah-pindah tempat dapat mengalami pertumbuhan yang baik, apa lagi akan menghasilkan buah yang banyak? Saya kira, sebelum dia bertumbuh, ia sudah layu dan mati.

Setelah bertahun-tahun melayani, saya menyadari kelemahan gereja-gereja masa kini, yakni tidak adanya kurikulum pengajaran yang memadai dalam sebuah gereja lokal, sehingga seringkali para pendeta (gembala) merasa frustasi karena tidak bisa melihat perubahan yang berarti bagi jemaat yang ia layani, karena hanya mengandalkan khotbah di mimbar saja. Oleh sebab itu, saya membentuk sebuah metode yang saya yakin akan sangat membantu para pendeta atau gembala, yang saya sebut dengan CLDC (Christian Life Development Center) atau Pusat Pengembangan Hidup Kristen. Jemaat memerlukan pengajaran yang teratur dan menyejukkan, berbobot dan menyenangkan. Saya sudah melayani hampir 10 tahun dalam program KELAS (Kasih Efektif Lengkapi Awam Sepenuhnya) dalam tingkat-tingkat komitmen 4000 - 3000 - 120 - 70- 12.

KESIMPULAN
Ada banyak penggembalaan yang dibangun di luar ketiga pokok di atas. Jika Anda berkata bahwa gereja saya dibangun di atas Kristus, maka itu artinya Anda harus melewati pintu PERCONTOHAN, HUBUNGAN, dan AJARAN. Yesus Kristus, adalah teladan penuh bagi setiap orang yang menerima tanggung jawab penggembalaan, entah itu penggembalaan dalam jumlah besar atau kecil. Yesus tidak hanya mengajar mereka kerendahan hati. Bahkan Yohanes menunjukkan pokok AJARAN pada bagian yang terakhir. Bukan karena ajaran kurang penting dibanding yang lainnya, melainkan karena serignkali orang merasa lebih mudah mengajar (baca: berbicara) dari pada berbuat (baca: mendengar baik-baik). Yesus mementingkan hubungan. Pepatah lama masih berlaku di sini: "Tak kenal, maka tak sayang." Hubungan yang baik dapat memperlancar banyak hal. Melalui blog inipun saya sedang belajar membangun hubungan dengan Anda juga. Saya harus terus belajar membangun hubungan. Lebih mudah berkhotbah di atas mimbar, tetapi apa gunanya jika para pendengar tidak tertarik sama sekali. Dan hubungan yang dinyatakan Yesus di sini adalah HUBUNGAN YANG PALING MENDASAR. Yesus sendiri menunjukkan cara bagimana melakukan maksud dari apa yang diajarkan-Nya. IA membasuh kaki murid-murid-Nya. Anda bisa saja berteriak di mimbar dan berkata: "Hendaklah kalian rendah hati sama seperti Yesus!" Tetapi orang-orang yang mendengar Anda tidak begitu mengerti, jika Anda sendiri tidak mampu menunjukkan caranya.

Nah, apa berkat saudara? Tolong bagikan.

In Christ,

No comments:

Post a Comment